Posts

Keragaman

Keragaman sejatinya mirip dengan dua buah magnet, di mana kutub yang tidak sejenis akan saling tarik menarik. Rata-rata, perbedaan justru akan menyatukan orang, mau itu dalam konteks yang negatif atau positif. Misalnya saja, perbedaan pendapat antara Rizieq Shihab dan Ahok mengenai ayat Al-Maidah 51 justru menarik mereka bersama, walaupun di pengadilan. Tapi, sejatinya keragaman akan menarik dua hal yang tidak sejenis. Sejujurnya, untuk perbedaan antara Rizieq Shihab dan Ahok, aku tidak mau ikut campur, cukup mengetahui faktanya saja. Karena, kasus ini sangat sensitif dan dengan membahasnya, ada sebuah pembatas yang sangat tipis antara menjaga pembicaraan seputar masalah ini sebagai pembicaraan politis dan umum atau menjadikan perkara ini sesuatu yang personal. Keragaman bisa menjadi suatu hal yang bersifat politis seperti perbedaan penafsiran antara Ahok dan Rizieq Shihab, atau pemerintahan Donald Trump yang kontraversional. Keragaman bisa menjadi hal yang positif, seperti peragawat...

Indonesia In the Eyes Of The Young

As young people and the next generation, how should we perceive Indonesia? Is it; our homeland, our source of food and resources, or merely just islands, where we live in? Do we need to; preserve it's nature, use it's resources, or just do nothing about it? Is Indonesia; our only hope, our only chance, or one out of millions of chances and hope in the world? Do we need to; love Indonesia, respect Indonesia, or ignore Indonesia? How should we perceive Indonesia, as the next generation? This generation has been threwn a series of problems, and with no manual of how to solve all of that. The generation before us regard us as the saviour of our country, and they are always forcing us on how to perceive Indonesia. But what perspective do we truly  need to believe in, to see? Will it make a difference, our perspective? Yes. Perspective is everything . As the leading generation, we should regard Indonesia as our only hope, and our only chance at a better life, and that's ...

Indonesia In 30 Years

I think that in 30 years which is 2046, Indonesia will be more stable, we will have a better financial state and we will have MRTs in big cities such as Jakarta and Surabaya. We will be able to export more of our goods to lots of countries and get money for the country. I don't really think that the people will be able to change because that's a more challenging task. There's like 250 million people in Indonesia, and if everyone changes it would take probably 100 years. I really hope that the education has changed, and children don't feel forced to go to school anymore, I hope that teachers will pay more attention to children in class and children will be able to study based on what they really want. I want children's intelligence to not be graded based on their academics, but from how they interact with others, and how they feel. In 30 years, Indonesia will have a great team of representations in the UN (hopefully including me!) and we will be able to have great t...

Teach Girls Bravery, Not Perfection

Today in English Class I chose to write a blogpost about a TED Talk from Reshma Saujani, a lawyer and politician who also happens the founder of tech organization Girls Who Code. Her TED Talk is called "Teach Girls Bravery, Not Perfection". She spoke on how we are afraid of making mistakes, and we demand much more than boys our age. Boys would get a 50 on their tests and be satisfied, but a girl, for example would cry because she feels as if she has disappointed people and she can do better, and she would ask for a remedial. Reshma talked about the very real difference between girls and boys, girls would hesitate to raise their hands when they don't understand, in the shame of them not understanding, but boys would raise their hands with no problem. This happens beneath our noses, and we don't speak of this phenomenon, as if it doesn't matter how girls are raised. Before I say anything, I'm explaining that this is purely my opinion and in no way I am intendi...

Mid-Semester Review

Today I have my Mid-Semester review, which consists of writing a review on a Jakarta Post article. A review that I very much like, because since the age of 8, I've started reading The Jakarta Post, so I'm good with it. The article that I chose is "UN to grill RI on rising rights abuse" by Hans Nicholas Jong. I chose this because A) I love the UN, B) Nara Masista, my new favourite Indonesian figure is mentioned and C) I'm a huge human rights defender (I wouldn't call myslef an activist, because I haven't done anything significant yet). The sentence that intrigues me the most is the mention of violation of religion, because I'm not a Muslim, so in Indonesia I'm quite a minority. Ifind itnot very shocking that Indonesia seals down other religious worshipping places because I have heard of it. My ears aren't a stranger to religious violence or even the executions in Aceh which they consider is right according to Sharia,  the religious law of Islam...

Ekspedisi Kecil

8 September kemarin, aku Fikri dan Sha datang ke ISBI untuk riset lebih lanjut mengenai Pagelaran Budaya Nusantara, dengan riset, yang dimaksud adalah membaca buku-buku di Perpustakaan ISBI dan meriset beberapa mahasiswa yang sedang ada di kampus. Dari sekolah, aku Fikri dan Sha berjalan lewat Babakan Jeruk dan menyegat angkot jurusan Gn. Batu-St. Hall bersama Nathan, Tia dan Nathan. Saat kami melewati Giant , kami melihat bahwa dua kelompok lain masih menunggu angkot. Angkot kami sudah penuh, jadi mereka hanya bisa menunggu angkot selanjutnya. Setelah sekitar 20 menit, kami tiba di kawasan Kebon Kawung, di mana kami turun dan naik angkot jurusan Gede Bage-St. Hall. Sampai sana, harga angkot per orangnya Rp3.000. Lalu, kami  naik angkot Gede Bage-St. Hall. Harganya jatuhnya lebih mahal; Rp5.000 karena jaraknya lebih jauh ketimbang angkot pertama. Supir angkotnya bilang juga, kalau ke Buah Batu memang mahal, karena kalau sudah di daerah sana, baliknya jauh dan macet lagi. Setelah s...

Everything Everything

Penulis: Nicola Yoon Halaman: 310 Tanggal diterbitkan: 1 September 2015 ISBN: 0553496646 (ISBN13: 9780553496642) Everything Everything bercerita mengenai Madeline Whittier, gadis berusia 17 tahun yang belum pernah keluar rumah seumur hidupnya. Ia hanya tinggal di rumah bersama ibunya yang seorang dokter, Pauline Whittier dan susternya, Carla. Maddy tak pernah keluar dari rumahnya karena ia mengidap suatu penyakit yang bernama  Severe Combined Immunodeficiency,  atau SCID. Penyakit ini menyebabkan Maddy menjadi alergik kepada banyak hal, dan iapun tidak tahu apa yang akan memicu reaksi alerginya. Suatu hari, Olly dan keluarganya pindah ke rumah seberang Maddy. Maddypun tertarik akan Olly dan keluarganya. Beberapa hari kemudian, Olly dan Maddy mulai diam-diam bertukar pesan, kadang dengan e-mail, Instant Messaging dan kadang berpantomim di depan jendela masing-masing atau menulis pesan di jendela. Pada akhirnya, Carla tahu, dan berpesan agar Maddy hati-hati karena mere...

Ulasan Artikel

Judul artikel yang kupilih untuk diulas adalah ‘ Wonderful Indonesia campaign boosts tourism industry’ yang ditulis oleh The Jakarta Post dalam Bahasa Inggris. Aku memilih artikel ini untuk kuulas karena aku selalu suka hasil karya dari Jakarta Post, mulai dari bahasannya, pilihan kata-katanya hingga ke beritanya yang selalu valid. Isi artikelnya seperti ini; The government’s efforts to promote tourism in the archipelago with its Wonderful Indonesia campaign have had a positive impact, the president director of tour and travel company Panorama Sentrawisata said on Tuesday. Budi Tirtawisata said that in the first six months of this year, his company booked a 19 percent increase in gross revenue to Rp 2.38 trillion, from Rp 1.99 trillion in the same period last year, as more foreigners were drawn to Indonesia. “The government’s free visa policy is also contributing to growth in the tourism sector,” Budi told reporters at a press conference in Jakarta. Budi was upbeat the company...

Resensi buku

Image
Untuk Jabawaskita beberapa minggu terakhir ini, aku menyelesaikan buku Journey to The Centre of The Earth, karangan Jules Verne yang legendaris. Buku ini adalah sebuah buku klasik yang sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa dari bahasa Prancis. Walaupun buku ini adalah sebuah bku fantasi, dan kalaupun ada orang yang ekspedisi ke tengah bumi, pasti tidak akan berhasil. Bagaimana bisa, bahkan sebuah mesin drillpun tidak bisa melewati kerak bumi, terlebih manusia. Namun unsur fantasi itu tetap bisa membuatku terpukau dan membayangkan stalaktit dan stalagmit yang megah, aliran air yang bersih dan segar, dan bayangkan saja, apa rasanya menemukan makhluk yang sudah punah, di bawah lapisan kerak! Untukku, sebuah buku itu harus bisa membawa aku dalam sebuah petualangan, dan Jules Verne benar-benar sukses melakukan itu padaku. Aku benar-benar bisa membayangkan kekagetan dan kekqaguman saat suhu di termometer menunjukkan 30 derajat Celcius, padahal berada di dalam sebuah gunung berapi yang...

Storytelling to Tambora

Today, on the 23 rd of March I had my English review, that was in form of storytelling for 2 nd graders. I wrote a story that I thought was made for an older and more mature audience, so I had some pages that wasn’t in “children's language and I thought that it would be too sophisticated for them, but it turned out to be just fine after a few tweaks and synonyms. I did sense that because of my story doesn’t has much of a plot and is a bit confusing for 2 nd graders, after I told them they were a bit confused. But nevertheless, they seemed to enjoy it, especially the artworks. When I was telling the story, I used Bahasa Indonesia first, and then I read the English translation. I also asked if they understood what this word meant, or what is this word in Bahasa Indonesia. When I asked about the translations, they did seem quite confused and just stared at me, so I eventually told them what it meant, and I asked them to repeat it sometimes. I think that they were m...

Kunjungan ke Rumah Kerabat

Saat tanggal 6 kemarin, aku berkunjung ke rumah teman dekat orangtuaku, Tante Fridia. Tante Fridia ini juga kerap disebut sebagai Tante Kemprit oleh beberapa orang. Menuju ke rumah Tante Fridia, aku naik angkot Cicaheum-Sarijadi dari Setrasari Mall, lalu turun di Pasar Sarijadi, dan jalan menuju perumahan Setraduta. Disana, aku langsung disapa oleh keluarga itu dan mulai berbicara dengan ringan. Tante Fridia ini adalah orang asli Bandung, lahir dan besar di kota kembang. Sedari SD, ia bersekolah di sekolah yang sama sampai SMA—Santa Angela. Dari sinilah ia mengenal beberapa orangtua Semi Palar, diantaranya Tante Citra, ibunya Ravi dan tante Vinca, ibunya Marcel. Ia juga mengenal Kak Ine, dari masa-masa sekolahnya. Tante Fridia sendiri mengenal orangtuaku dari komunitas saat kuliah, GEMA. GEMA ini singkatan dari “Gereja Mahasiswa”, dimana yang mengurusi komunitas gerejanya merupakan mahasiswa/i. Tante Fridia ini seorang psikolog anak, yang berspesialisasi dalam anak-anak denga...

Bagaimana Sungai Membangun Manusia

Image
Sungai Thames, London adalah salah satu sungai terbersih di dunia. “Bagaimana Sungai Membangun Manusia”. Judul slideshow yang disusun oleh sang narasumber. Kemarin, ada seorang narasumber bernama Kak Dodi yang memberi ke 17 anggota Malabar berbagai informasi mengenai sungai di Indonesia. Beberapa informasi yang ia sampaikan, diantaranya yakni mengenai ‘normalisasi’ sungai Ciliwung. Perhatikan bagaimana aku memberikan tanda kutip di kata normalisasi? Kampung Kali Code yang berwarna-warni meriah.  Karena, apa yang disebut sebagai normalisasi sungai oleh pemerintah ibukota, jauh dari normalisasi yang harusnya. Selain itu, Kak Dodi menyampaikan kisah-kisah mengenai Kali Code, Yogyakarta yang tenar. Kali Code ialah sebuah daerah perumahan tepi sungai yang terkenal karena saat hendak dijadikan RTH, diselamatkan oleh alm. Rama Mangun (Y.B.Mangunwijaya). Beliau menyemangati warga Kali Code, dengan pesan yang kira-kira berbunyi “Ayo, katanya mau jadi kawasan bersih, buktikan dong...

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban

Image
Harry Potter and The Prisoner of Azkaban J.K. Rowling 317 halaman Fantasi Softcover Buku ketiga dalam serial Harry Potter Didahului oleh Harry Potter and the Chamber of Secrets Dilanjut dengan Harry Potter and The Goblet of Fire Selama liburan, Harry kembali ke Privet Drive bersama keluarga Dursleys. Disana, ia menyaksikan berita mengenai seorang napi yang kabur—Sirius Black. Suatu ketika, Harry dan Aunt Marge sedangmakan bersama, dan ia tidak bisa mengontrol amarahnya saat Marge menghina orangtuanya, dan secara tidak  sengaja mengelembungkan Aunt Marge.Hal ini membuat Harry kabur dengan Knight Bus, dan mnginap di Diagon Alley untuk 3 minggu sebelum harus kembali ke Hogwarts. Malam sebelum ke Hogwarts, Harry mempelajari bahwa Sirius Black adalah seorang pembunuh yang kabur dari Azkaban, dan berniat untuk membunuh Harry. Di kereta menuju Hogwarts, Harry, Ron dan Hermione bertemu guru baru, Professor Lupin. Di kereta ada seekor Dementor yang memb...

The Mysterious Benedict Society and The Prisoners Dilemma

Image
 Mysterious Benedict Society: The Prisoners Dilemma By Trenton Lee Stewart 961 halaman  Childrens/Juvenile fiction Soft cover Cerita ini dimulai dengan The Mysterious Benedict Society yang sedang memainkan sebuah permainan yang diusulkan Rhonda, yaitu Prisoners Dilemma. Permainan ini diakhiri dengan Kate membobol jendela sehingga mereka semua keluar lewat jendela. Rhonda lalu memasukki ruangan dan melihat anak-anak melambai dari luar. The Mysterious Benedict Society dan keluarga mereka tinggal di kediaman Mr. Benedict untuk keselamatan mereka dari ancaman Mr. Curtain dan Ten Mennya. Namun, mereka tidak hentinya berpikir mereka tidak luput dari ancaman berbahaya, dan merekapun sedkit curiga pada beberapa petugas keamanan yang disewa oleh Mr. Benedict. Dalam buku ini, para anak-anak—Sticky, Constance, Reynie dan Kate bersemangat untuk mencari teknologi penyembuh narkolepsi yang diderita Mr. Benedict. Narkolepsi adalah suatu kondisi yang membuat Mr. B...

All The Bright Places

Image

Jajanan Bandung

Image
Yesterday on Thursday 19 th , my friends and I embarked (embark might be a little too pretentious for this outing) on a little outing across Alun-alun Bandung and it’s surroundings. We went to Pasar Baru , the train station and the angkot terminal. We also had to stop to taste Bandung’s culinary on the road. We were given 4 locations, and my group thought that we were supposed to try food at every location, but it was supposed to be at only one location. Oh well, more the food the better. We got bola-bola obi at Jl. ABC, we bought two of them. One is sold for a quite cheap Rp1.000. We eventually bought two, but Raka decided not to eat it (he was supposed to share with jordy) so Jordy got a whole. But Ara and I protested because it was not fair so eventually Raka had a half. It was sheer pleasure, because on the outside it’s really crisp and it slowly breaks as you bite it, and when you think the inside is hollow, nu’uh, there’s this gooey mixture of ubi & tepung aci...